ajie\’s Blog

Just another Diponegoro Student Blogs weblog
RSS icon Email icon Home icon
  • Redistribute Routing

    Posted on June 7th, 2011 ajie No comments
  • Administrative Distance (ad) pada Routing IP

    Posted on July 3rd, 2009 ajie No comments

    pada dasarnya administrative distance digunakan untuk menentukan bagai mana suatu penyaluran data dilakukan. administrative distance digunakan oleh suatu router untuk memilih jalur yang desidiakan pada topoligi jaringan setiap protokol routing mempunyai ad yang berbeda, ad dipilih berdasarkan besaran yang telah ditetapkan untuk digunakan dalam kaitanya pemilihan prioritas dari jalur

    Pemilihan Jalur Tebaik [The Best Path], Administrative distance adalah kriteria pertama yang digunakan oleh router untuk menentukan routing protocol yang harus dijalankan, jika terdapat dua routing protocol yang menyediakan jalur untuk tujuan yang sama. AD adalah sebuah ukuran “trustworthiness”  dari source of routing information. AD hanya mempunyai local significance, dan tidak melakukan advertise dalam routing update.

    Nilai AD yang lebih kecil, lebih dipercaya/reliable. Contoh, Jika sebuah router menerima informasi tentang jalur menuju jaringan tertentu dari Open Shortest Path First (OSPF) (default administrative distance – 110) dan Interior Gateway Routing Protocol (IGRP) (default administrative distance – 100), Router akan memilih IGRP karena IGRP lebih dipercaya/reliable karena memiliki AD yang lebih kecil dibandingkan OSPF. Jika source address untuk IGRP hilang atau tidak dikenal, maka router akan memilih/menjalankan routing OSPF sampai IGRP aktif kembali.

    pada penerapan ad saya membuat topologi seperti gambar dibawah ini:

    Pada topologi diatas menggunakan dua buah protokol routing yaitu RIP V1 dengan ad 120 dan EIGRP dengan ad 90. dari topologi diatas terdapat 4 buah segmen jaringan, pada saat melakukan simulasi tentang ad saya menggunakan Packet Tracer 5 sebagai simulator. simulasi ini dilakukan dengan cara kita melihat tabel routing dari  R2 pada simulasi ini saya

    pada penerapan simulasi ini dapat kita lihat tabel routing pada R2 seperti dibawah :

    Dalam pengaturan routing saya membuat 2 buah protokol routing RIP dan Eigrp kedua routing protokol yang mengarah ke jaringan 192.168.6.0,akan tetapi router memilih Eigrp padahal ada routing RIP juga saya buat pada pengaturannya. hal ini disebabkan karena adanya pengaruh ad yang lebih kecil hal ini yang menyebabkan ad pada Eigrp lebih dipilih oleh router dibandingkan RIP yang mempunyai ad yang lebih besar.

    sebenarnya saya kurang yakin dengan peryataan diatas jadi saya melakukan percobaan kembali mengenai ad, jadi skema yang saya buat dengan mengecilkan nilai ad dari protokol RIP dari 120 menjadi 80, dengan nilai ad Eigrp yang tetap yaitu 90 dan dengan pengaturan perintah distance pada protokol RIP, dan Hasil seperti ini yang saya dapatkan :

    dari gambar diatas kita dapat melihat bahwa routing yang mengarah ke jaringan 192.168.6.0 beribah menjadi RIP, hal ini dikarenakan sekarang ad pada RIP berubah menjadi 80 dibandingkan Eigrp yang mempunyai ad 90, akan tetapi saya ingatkan pengubahan ad dari default bisa menyebabkan loop dan balckhole dalam protokol routing tersebut, hal ini sesuai dengan peryataan ad yang kecil lebih realible dan dipilih sebagai jalur terbaik dalam menenjukan pengalamatan jaringan.

    Router terkadang mepelajari banyak protocol routing pada jaringan yang sama dari static routing ataupun dynamic routing. Ketika router mempelajari tentang jaringan tujuan terdapat banyak sumber routing, cisco router mengunakan administrative distance sebgai nilai yang menentukan sumber mana yang digunakan. Setiap routing diyamic mempunyai ad yang berbeda – beda, berbeda dengan static routing ataupun yang terkoneksi langsung. Nilai ad terkecil, lebih besar peluangnya sebagai routing sumber. Perangkat yang terhubung secara langsung selalu digunakan sebagai routing sumber yang dipilih, diikuti dengan static routing dan beberapa dynamic routing

    Dibawah adalah conto administrative distance:

    Route Source Default Distance Values

    • Connected interface 0
    • Static route 1
    • Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP) summary route 5
    • External Border Gateway Protocol (BGP) 20
    • Internal EIGRP 90
    • IGRP 100
    • OSPF 110
    • Intermediate System-to-Intermediate System (IS-IS) 115
    • Routing Information Protocol (RIP) 120
    • Exterior Gateway Protocol (EGP) 140
    • On Demand Routing (ODR) 160
    • External EIGRP 170
    • Internal BGP 200
    • Unknown* 255

    untuk lebih jelas dan anda dapat mencoba apa yang saya lakukan saya berikan file topologi jaringan diatas dengan mengunnakan Packet Tracer 5 sebagai simuator dapat di download disini

  • Konsep Dynamic Routing

    Posted on July 1st, 2009 ajie 1 comment

    Apabila jaringan memiliki lebih dari satu kemungkinan rute untuk tujuan yang sama maka perlu digunakan dynamic routing. Sebuah dynamic routing dibangun berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh protokol routing. Protokol ini didesain untuk mendistribusikan informasi yang secara dinamis mengikuti perubahan kondisi jaringan. Protokol routing mengatasi situasi routing yang kompleks secara cepat dan akurat. Protokol routng didesain tidak hanya untuk mengubah ke rute backup bila rute utama tidak berhasil, namun juga didesain untuk menentukan rute mana yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut. Pengisian dan pemeliharaan tabel routing tidak dilakukan secara manual oleh admin. Router saling bertukar informasi routing agar dapat mengetahui alamat tujuan dan menerima tabel routing. Pemeliharaan jalur dilakukan.

    A. ALGORITMA ROUTING

    Klasifikasi Algoritma Routing :

    1. Global
    Semua router memiliki informasi lengkap mengenai topologi, link cost.
    Contohnya adalah algoritma link state.

    2. Desentrasilasi

    • Router mengetahui koneksi fisik atau link cost ke tetangga,
    • Terjadi pengulangan proses komputasi dan mempertukarkan,
    • Informasinya ke router tetangganya, contohnya adalah algoritma distance vector

    1. DISTANCE VECTOR

    Algoritma routing distance vector secara periodik menyalin table routing
    dari router ke router. Perubahan table routing ini di-update antar router yang saling berhubungan saat terjadi perubahan topologi. Setiap router menerima table routing dari router tetangga yang terhubung secara langsung.Proses routing ini disebut juga dengan routing Bellman-Ford atau Ford-Fulkerson. Routing vektor jarak beroperasi dengan membiarkan setiap router menjaga tabel (sebuah vektor) memberikan jarak yang terbaik yang dapat diketahui ke setiap tujuan dan saluran yang dipakai menuju tujuan tersebut. Tabel-tabel ini di-update dengan cara saling bertukar informasi dengan router tetangga.

    Routing distance vektor bertujuan untuk menentukan arah atau vektor dan
    jarak ke link-link lain di suatu internetwork. Sedangkan link-state bertujuan untuk menciptakan kembali topologi yang benar pada suatu internetwork.

    Misal, router Y menerima tabel informasi estimasi dari router X, dimana terdapat Xi, yang menyatakan estimasi waktu yang dibutuhkan oleh X untuk sampai ke router i. Bila Y mengetahui delay ke X sama dengan m milidetik, Y juga mengetahui bahwa Y dapat mencapai router i dalam Xi + m milidetik.

    Struktur data tabel Distance Vector :

    • Setiap node (router) memilikinya,
    • Baris digunakan menunjukkan tujuan yang mungkin,
    • Kolom digunakan menunjukkan untuk setiap node tetangga secara langsung,
    • Sebagai contoh : pada router X, untuk tujuan Y melalui tetangga Z.
    • Pembentukan tabel routing dilakukan dengan cara tiap-tiap router saling bertukar informasi routing dengan router yang terhubung secara langsung.
    • Proses pertukaran informasi dilakukan secara periodik, misal setiap 45 detik.

    Update table routing dilakukan ketika terjadi perubahan toplogi jaringan. Sama dengan proses discovery, proses update perubahan topologi step-by-step dari router ke router. Gambar diatas menunjukkan algoritma distance vector memanggil ke semua router untuk mengirim ke isi table routingnya. Table routing berisi informasi tentang total path cost yang ditentukan oleh metric dan alamat logic dari router pertama dalam jaringan yang ada di isi table routing, seperti skema oleh gambar di bawah ini.

    Analogi distance vector dapat dianalogikan dengan jalan tol. Tanda yang menunjukkan titik ke tujuan dan menunjukkan jarak ke tujuan. Dengan adanya tanda-tanda seperti itu pengendara dapat dengan mudah mengetahui perkiraan jarak yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan. Dan tentunya jarak terpendek adalah rute yang terbaik.

    2. LINK-STATE

    Algoritma link-state juga dikenal dengan algoritma Dijkstra atau algoritma
    shortest path first (SPF). Algoritma ini memperbaiki informasi database dari
    informasi topologi. Algoritma distance vector memiliki informasi yang tidak
    spesifik tentang distance network dan tidak mengetahui jarak router. Sedangkan algortima link-state memperbaiki pengetahuan dari jarak router dan bagaimana mereka inter-koneksi.

    Beberapa fitur yang dimiliki oleh routing link-state adalah:

    1. Link-state advertisement (LSA) – paket kecil dari informasi routing yang dikirim antar router.
    2. Topological database – kumpulan informasi yang dari LSA-LSA.
    3. SPF algorithm – hasil perhitungan pada database sebagai hasil dari pohon SPF.
    4. Routing table – adalah daftar rute dan interface.

    KONSEP LINK STATE

    Dasar algoritma routing yang lain adalah algoritma link state. Algoritma link state biasa disebut sebagai algoritma Dijkstra atau algoritma Shortest Path First (SPF).

    • Setiap router mempunyai peta jar,
    • Router menentukan rute ke setiap tujuan di jar berdasarkan peta jar tersebut.
    • Petajaringan disimpan router dalam bentuk database sebagai hasil dari pertukaran info link-state antara router-router bertetangga di jar tersebut.
    • Setiap record dalam database menunjukkan status sebuah jalur dijar (link-tate).
    • Menerapkan algoritma Dijkstra.
    • Topologi jaringan dan link cost diketahui oleh semua node router.
    • Dilakukan dengan cara mem-broadcast informasi link state.
    • Semua node memiliki informasi yang sama.
    • Menghitung cost terkecil dari satu node ke node lainnya.
    • Memberikan tabel rute untuk router tersebut setelah iterasi sebanyak n, diketahui link cost terkecil untuk n tujuan.

    B. PROTOKOL ROUTING

    Routing protocol berbeda dengan routed protocol. Routing protocol adalah komunikasi antara router-router. Routing protocol mengijinkan router-router untuk sharing informasi tentang jaringan dan koneksi antar router. Router menggunakan informasi ini untuk membangun dan memperbaiki table routingnya. Seperti pada gambar di bawah ini.

    Protokol routing dinamik yang banyak digunakan dalam internetworking TCP/IP adalah RIP (Routing Information Protocol) yang menggunakan algoritma routing distance vector dan OSPF (Open Shortest Path First) yang menggunakan.algoritma link-state. Pada layer TCP/IP, router dapat menggunakan protokol routing untuk membentuk routing melalui suatu algoritma yang meliputi:

    1. RIP — menggunakan protokol routing interior dengan algoritma distance vector,
    2. IGRP — menggunakan protokol routing interior dengan algoritma Cisco distance vector,
    3. OSPF — menggunakan protokol routing interior dengan algoritma link state,
    4. EIGRP — menggunakan protokol routing interior dengan algoritma advanced Cisco distance vector.

    Routing Information Protocol (RIP)

    Routed protocol digunakan untuk user traffic secara langsung. Routed
    protocol menyediakan informasi yang cukup dalam layer address jaringannya untuk melewatkan paket yang akan diteruskan dari satu host ke host yang lain berdasarkan alamatnya.
    RIP merupakan salah satu protokol routing distance vector yang digunakan oleh ribuan jaringan di dunia. Hal ini dikarenakan RIP berdasarkan open standard dan mudah diimplementasikan. Tetapi RIP membutuhkan konsumsi daya yang tinggi dan memerlukan fitur router routing protokol. Dasar RIP diterangkan dalam RFC 1058, dengan karakteristik sebagai berikut:

    • Routing protokol distance vector,
    • Metric berdasarkan pada jumlah lompatan (hop count) untuk pemilihan jalur,
    • Jika hop count lebih dari 15, maka paket dibuang,
    • Update routing dilakukan secara broadcast setiap 30 detik.

    1. RIP Versi 1

    • Dokumen –> RFC1058.
    • RIP V1 routing vektor-jarak yang dimodifikasi dengan triggered update dan split horizon dengan poisonous reverse untuk meningkatkan kinerjanya.
    • RIP V1 diperlukan supaya host dan router dapat bertukar informasi untuk menghitung rute dalam jaringan TCP/IP.
    • Informasi yang dipertukarkan RIP berupa :
      a. Host
      b. Network
      c. Subnet
      d. Rutedefault

    2. RIP Versi 2

    • Enhancement dari RIP versi1 ditambah dengan beberapa kemampuan baru,
    • Algoritma routing sama dengan RIP versi1,
    • Bedanya terletak pada format dengan tambahan informasi yang dikirim,
    • Kemampuan baru :

    a. Tag –> untuk rute eksternal.
    b. Subnet mask.
    c. Alamat hop berikutnya.
    d. Autentikasi.

    IGRP (Interior Gateway Routing Protocol)

    IGRP merupakan distance vector IGP. Routing distance vector mengukur
    jarak secara matematik. Pengukuran ini dikenal dengan nama distance vector. Router yang menggunakan distance vector harus mengirimkan semua atau sebagian table routing dalam pesan routing update dengan interval waktu yang regular ke semua router tetangganya. Isi dari informasi routing adalah:

    • Identifikasi tujuan baru,
    • Mempelajari apabila terjadi kegagalan.

    IGRP adalah routing protokol distance vector yang dibuat oleh Cisco. IGRP
    mengirimkan update routing setiap interval 90 detik. Update ini advertise semua jaringan dalam AS. Kunci desain jaringan IGRP adalah:

    • Secara otomatis dapat menangani topologi yang komplek,
    • Kemampuan ke segmen dengan bandwidth dan delay yang berbeda,
    • Skalabilitas, untuk fungsi jaringan yang besar.

    Secara default, IGRP menggunakan bandwidth dan delay sebagai metric. Untuk konfigurasi tambahan, IGRP dapat dikonfigurasi menggunakan kombinasi semua varibel atau yang disebut dengan composite metric. Variabel-variabel itu misalnya:

    • Bandwidth
    • Delay
    • Load
    • Reliability

    IGRP yang merupakan contoh routing protokol yang menggunakan algoritma distance vector yang lain. Tidak seperti RIP, IGRP merupakan routing protokol yang dibuat oleh Cisco. IGRP juga sangat mudah diimplementasikan, meskipun IGRP merupakan routing potokol yang lebih komplek dari RIP dan banyak faktor yang dapat digunakan untuk mencapai jalur terbaik dengan karakteristik sebagai berikut:

    • Protokol Routing Distance Vector.
    • Menggunakan composite metric yang terdiri atas bandwidth, load,        delay dan reliability.
    • Update routing dilakukan secara broadcast setiap 90 detik.

    OSPF (Open Shortest Path First)

    OSPF merupakan interior routing protocol yang kepanjangan dari Open
    Shortest Path First. OSPF didesain oleh IETF ( Internet Engineering Task Force ) yang pada mulanya dikembangkan dari algoritma SPF ( Shortest Path First ). Hampir sama dengan IGRP yaitu pada tahun 80-an.
    Pada awalnya RIP adalah routing protokol yang umum dipakai, namun ternyata untuk AS yang besar, RIP sudah tidak memadai lagi. OSPF diturunkan dari beberapa periset seperti Bolt, Beranek, Newmans. Protokol ini bersifat open yang berarti dapat diadopsi oleh siapa pun. OSPF dipublikasikan pada RFC nomor 1247. OSPF menggunakan protokol routing link-state, dengan karakteristik sebagai berikut:

    • Protokol routing link-state.
    • Merupakan open standard protokol routing yang dijelaskan di RFC 2328.
    • Menggunakan algoritma SPF untuk menghitung cost terendah.
    • Update routing dilakukan secara floaded saat terjadi perubahan topologi jaringan.
    • OSPF adalah linkstate protokol dimana dapat memelihara rute dalam dinamik network struktur dan dapat dibangun beberapa bagian dari subnetwork.
    • OSPF lebih effisien daripada RIP.
    • Antara RIP dan OSPF menggunakan di dalam Autonomous System ( AS ).
    • Menggunakan protokol broadcast.

    EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol)

    EIGRP menggunakan protokol routing enhanced distance vector, dengan
    karakteristik sebagai berikut:

    • Menggunakan protokol routing enhanced distance vector.
    • Menggunakan cost load balancing yang tidak sama.
    • Menggunakan algoritma kombinasi antara distance vector dan link-state.
    • Menggunakan Diffusing Update Algorithm (DUAL) untuk menghitung jalur terpendek.

    note:

    • Pada penggunaan EIGRP menggunakan autonomous sytem yang disebut sistem routing.
    • router – router yang berada dalam suatu autonomuos sytem yang sama disebut Gateway Protocol (IGP)
    • Routing didalam satu subnet dengan outonomous yang sama disebut system routing.
    • Routing diantara dua subnet yang berlainan dengan autonomous system yang sma disebut interior routing.
    • Jika router yang berada dalam suatu autonomuos system berhubungan dengan router lain,jenis protokol routing yang mengatur disebut Exterior ateway Protocols (EGP)

    • Pada penerapan Dynamic routing terdapat konsep classfull dan classless.
    • Classfull adalah penerapan subnet secara penuh atau default. /24,/16,/8 artinya penggunaan kelas full dikonsep ini.
    • Classless artinya kita dapat mengunakan semua subnet yang dapat digunakan maksudnya kita dapat menggunakan metode VLSM pada penerapannya.
    • Dynamic routing Classfull : Rip V1, IGRP
    • Dynamic routing ClassLess : IS-IS,Rip V2,OSPF,EIGRP, dan BGP

    Convergence

    Convergence adalah suatu bahasan dalam Dynamic routing yang mempunyai keadaan dimana ketika semua router telah mempunyai routing tabel mereka sendiri sacara tetap dan konsisten. Jaringan yang Convergence ketika semua router telah mendapatkan hasil lengkap dan akurat mengenai informasi jaringan. Waktu convergence adalah waktu saar semua router berbagi informasi, menghitung jalur terbaik, mengperbaharui Routing tabel mereka. Jaringan tidak akan berhenti beroperi sanpai semua network mendapatkan status convergence, kebanyakan jaringan mempunyai waktu yang singkat untuk mengubah statusnya menjadi convergence.

    Convergence mengambungkan sifat kolaborasi dan independen,artinya selain router membuat informasi routingnya sendiri tapi juga berkerjasama dengan router lain untuk menentukan jalur tebaik, serta mengantisipasi terhadap perubahan topologi bersama router lain.pencapaian status convergence secara cepat menandakan protokol routing yang lebih baik, RIP dan IGRP adalah jenis convergence yang lambat, EIGRP dan OSPF adalah jenis convergence yang cepat.

  • Buku Teknologi Informasi

    Posted on June 25th, 2009 ajie No comments

    Buku Teknologi Informasi

    Buku Online ini dibuat bersumber dari buku ” Using Information Technology dengan pencipta Brian K. William dan Stacey C. Sawyer Edisi & yang diterbitkan oleh Penerbit ANDI Yogyakarta”. Buku Online ini dibuat untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Teknologi Informasi. Buku Online ini mempunya sistem setiap subbab me-link kepada peserta mata kuliah yang bersangkuta. Buku ini membahas tentang pengertian, penggunaan dan perkembangan Teknologi Informasi serta semua bab yang mengenai bahasan tersebut. dalam buku ini terdapat 10 bab yang diantaranya:

    Bab I Pengantar Teknologi Informasi : Dunia Digital anda
    Bab II Internet dan World Wide Web : Eksplorasi Dunia Maya
    Bab III Perangkat Keras : Perkakas, Produktivitas dan Kreativitas
    Bab IV Perangkat Keras : CPU dan Alat Penyimpanan : Cara memilih Komputer Multimedia
    Bab V Perangkat Keras : Input dan Output : Berperan Serta dalam Komputasi dan Komunikasi
    Bab VI Komunikasi, Jaringan dan Proteksi: Dunia Kabel dan Nirkabel
    Bab VII Teknologi Pribadi: Teknologi Masa Depan untuk Anda
    Bab VIII Database dan Sistem Informasi: Mesin Digital untuk Ekonomi saat ini
    Bab IX Tantangan Era Digital: Masyarakat & Teknologi Informasi Saat ini
    Bab X Analisis Sistem dan Pemograman: Pengembangan Perangkat Lunak, Pemograman dan Bahasa

  • Modul Dynamic Routing 2009

    Posted on June 23rd, 2009 ajie No comments

    Routing Protokol

    Routing Information Protokol ( RIP)

    Routing Information Protokol ( RIP) adalah stantdar dasar dari distance vector, Interior gateway Protokol yang digunakan oleh router untuk saling bertukar informasi. RIP menggunakan hop count utnuk menentukan jalur terbaik diantara dua lokasi. Hop count adalah suatu besaran jarak yang dipunyai oleh router untuk menentukan sebuah paket menuju kepadanya. Maximum yang dapat dijangkauu oleh Protokol routing RIP adalah 15 hop

    Pada jaringan RIP, setiap router broadcast informasi table RIP kepada perangkat disekirtarnya setiap 30 detik. Perangakat disekitarnya mendapat kan informasi table RIP, itu digunakan untuk mendukung pengupdatean dari routing table dan mengirimkan table informasi routing yang telah di update kepada perangkat disektarnya. Langkah – langkah ini terusr diulang oleh setiap router dan hasilini menunjukan suatu pemusatan pada jaringan,yang dipunyai secara identik oleh jaringan yang berada dalam jaringan tersebut.

    Router 1 seharusnya dikonfigurasi sebagai berikut :

    Router>en

    Router#conf t

    Router(config)#hostname Router1

    Router1(config)#int e0

    Router1(config-if)#ip address 10.1.1.1 255.255.255.0

    Router1(config-if)#no shut

    Router1(config-if)#exit

    Router1(config)#int s0

    Router1(config-if)#ip address 172.16.10.1 255.255.255.0

    Router1(config-if)#no shut

    Router1(config-if)#exit

    Router1(config)#^z

    Router1#write mem

    RIP versi 1 menggunankan metode classfull, ini berarti tidak memasukan pengaturan secara subnet pada pengupdatean table routing. Untuk penggunaan suatu subnet pada jaringan maka RIP version 2 digunakan.

    Untuk mengaktivkan fungsi Protokol Routing RIP pada router 1, router rip pada console router1 pada mode config dari router1

    Router(config)#router rip

    Router(config-router)#

    Setiap RIP dijalankan pada router1, pendekteksian jaringan yang menjadi bagian dalam jaringan RIP harus dideklerasikan. Setiap interface router yang terhubung langsung pada router harus dideklerasiksin. Terkadang jaringan akan dikonfigurasi pada IP yg sama akan tetapi berbeda subnet, dan sebagian lainnya akan dikonfigurasiakn dapa skema address yang sama.perhatikan pada topologi dibawah :

    topologi

    topologi

    Interface Ethernet 0 pada Router1 menpunyai alamat IP 10.1.1.1 dengan subnet /24 dan Interface Serial 0 mempunyai alamat IP 172.16.10.1 dengan subnet mask /16. Karena RIP mempunyai sifat classfull, jadi subnet yang dipakai hanya sunet yang bersifat default dari IP class. Jadi pada Router1 network 10.0.0.0 merupakan konfigurasi pada ethetnet 0 dan network 172.16.0.0 adalah konfigurasi Serial 0 pada Router1 .

    Router(config-router)#network 172.16.0.0

    Router(config-router)#network 10.0.0.0

    Router(config-router)#

    Router 2 dikonfigurasi sebagai berikut :

    Router>en

    Router#conf t

    Router(config)#hostname Router2

    Router2(config)#int e0

    Router2(config-if)#ip address 10.1.1.2 255.255.255.0

    Router2(config-if)#no shut

    Router2(config-if)#exit

    Router2(config)#

    Dan pengaturan Informasi RIP sebagai berikut :

    Router2(config-router)#router rip

    Router2(config-router)#network 10.0.0.0

    Router2(config-router)#exit

    Router(2config)#^z

    Router2#write mem

    Pada pengaturan diatas seharusnya Protokol RIP suadah berjalan diantara Router1 dan Router2

    Router 4 dikonfigurasi sebagai berikut :

    Router>en

    Router#conf t

    Router(config)#hostname Router4

    Router4(config)#int s0

    Router4(config-if)#ip address 172.16.10.2 255.255.255.0

    Router4(config-if)#no shut

    Router4(config-if)#exit

    Router4(config)#

    Dan pengaturan Informasi RIP sebagai berikut :

    Router4(config-router)#router rip

    Router4(config-router)#network 172.16.0.0

    Router4(config-router)#exit

    Router4(config)#^z

    Router4#write mem

    Saat ini RIP delah dikonfigurasi pada jaringan ini, perintah show dapat digunakan untuk verifikasi router yang menggunakan RIP. Perintah dasar yang banak digunakan adalah show IP route , yang akan menampilkan semua masukan dari table routing. Periintah ini harus digunakan pada previlages mode dari router4 untuk menunjukan hubungan secara langsung dengan Router 1dan jaringan lain yang berada pada jaringan tersebut.

    Router4# show ip route

    Perintah kedua untuk melihat veriikasi protocol routing adalah show IP protocol yang akan menunjukan IP protocol routing apa yang digunakan.

    Router4#show ip protocols

    Interior Gateway Routing Protocol (IGRP)

    Interior Gateway Routing Protocol (IGRP) adalah dasar dari distance vector, IGP digunakan oleh router untuk melakukan pertukaran informasi routing. IDRP mengunakan penggabungan metrics dari badwith dan delay untuk menentukan jalur terbaiak dari dua lokasi. Metriks dapat juga dikonfigurasi secara administrative pada maximum transmission unit (MTU), reability dan load untuk link.

    Pada jaringan IGRP, setiap router menyiarkan informasi jaringan ke dalam IDRP table dan membagikan informasi tersebut kepada interface sekitarnya setiap 90 detik. Ketika interface sebelahnya menerima informasi tersebut dari IGRP table, informasi tersebut digunakan untuk pengupdatean informasi routing pada table routing dan mengirimkan update dari table tersebut kepada interface sekitarnya. Langkah – langkah ini terusr diulang oleh setiap router dan hasilini menunjukan suatu pemusatan pada jaringan,yang dipunyai secara identik oleh jaringan yang berada dalam jaringan tersebut.

    Router 1 seharusnya dikonfigurasi sebagai berikut :

    Router>en

    Router#conf t

    Router(config)#hostname Router1

    Router1(config)#int e0

    Router1(config-if)#ip address 10.1.1.1 255.255.255.0

    Router1(config-if)#no shut

    Router1(config-if)#exit

    Router1(config)#int s0

    Router1(config-if)#ip address 172.16.10.1 255.255.255.0

    Router1(config-if)#no shut

    Router1(config-if)#exit

    Router1(config)#^z

    Router1#write mem

    IGRP menggunankan metode classfull, ini berarti tidak memasukan pengaturan secara subnet pada pengupdatean table routing.

    Untuk mengaktivkan Protokol Routing IGRP pada Router 1, maka perintah router IGRP AS harus digunakan. AS digunakan sebagai standard untuk autonomous system protocol. Autonomous system dibuat ditentukan berdasarkan jaringan administrasi yang membawahi izin jaringan tersebut. Pasa nomor autonomous system yang sama harus digunakan pada setiap router routing table pada router 1 yang merupakan satu autonomous system.

    Pada contoh ini, nomor autonomous system 100 akan digunakan. Pembentukan mode router baru dimasukan.

    Router(config)#router IGRP 100

    Router(config-router)#

    IGRP telah berjalan pada router, statement jaringan harus digunakan untuk untuk memberitahukan router pada jaringan yang terkoneksi. Setiap interface router yang terhubung langsung untuk mengaktivkannya memerlukan nomor jaringan. Beberapa jaringan akan menggunakan skema alamat IP yang sama akan tetapi berbeda subnet, dan lainnya menggunakan akema pengalamatan IP yang berbeda. Lihat gambar dibawah ini :

    topologi

    Interface Ethernet 0 pada Router1 menpunyai alamat IP 10.1.1.1 dengan subnet /24 dan Interface Serial 0 mempunyai alamat IP 172.16.10.1 dengan subnet mask /16. Karena IGRP mempunyai sifat classfull, jadi subnet yang dipakai hanya sunet yang bersifat default dari IP class. Jadi pada Router1 network 10.0.0.0 merupakan konfigurasi pada ethetnet 0 dan network 172.16.0.0 adalah konfigurasi Serial 0 pada Router1 .

    Router(config-router)#network 172.16.0.0

    Router(config-router)#network 10.0.0.0

    Router(config-router)#

    Router 2 dikonfigurasi sebagai berikut :

    Router>en

    Router#conf t

    Router(config)#hostname Router2

    Router2(config)#int e0

    Router2(config-if)#ip address 10.1.1.2 255.255.255.0

    Router2(config-if)#no shut

    Router2(config-if)#exit

    Router2(config)#

    Dan pengaturan Informasi IGRP sebagai berikut :

    Router2(config-router)#router IGRP 100

    Router2(config-router)#network 10.0.0.0

    Router2(config-router)#exit

    Router(2config)#^z

    Router2#write mem

    Pada pengaturan diatas seharusnya Protokol IGRP suadah berjalan diantara Router1 dan Router2

    Router 4 dikonfigurasi sebagai berikut :

    Router>en

    Router#conf t

    Router(config)#hostname Router4

    Router4(config)#int s0

    Router4(config-if)#ip address 172.16.10.2 255.255.255.0

    Router4(config-if)#no shut

    Router4(config-if)#exit

    Router4(config)#

    Dan pengaturan Informasi IGRP sebagai berikut :

    Router4(config-router)#router IGRP 100

    Router4(config-router)#network 172.16.0.0

    Router4(config-router)#exit

    Router4(config)#^z

    Router4#write mem

    Saat ini RIP delah dikonfigurasi pada jaringan ini, perintah show dapat digunakan untuk verifikasi router yang menggunakan RIP. Perintah dasar yang banak digunakan adalah show IP route , yang akan menampilkan semua masukan dari table routing. Periintah ini harus digunakan pada previlages mode dari router4 untuk menunjukan hubungan secara langsung dengan Router 1dan jaringan lain yang berada pada jaringan tersebut.

    Router4# show ip route

    Perintah kedua untuk melihat veriikasi protocol routing adalah show IP protocol yang akan menunjukan IP protocol routing apa yang digunakan.

    Router4#show ip protocols

    Open Shortest Path First (OSPF)

    OSPF adalah dynamic link-state, hierarki IGP berdasarkan pada standard open. OSPF didesaign sebagai penggantian dari RIP dan mengambil dari versi sebelumnya dari Intermediate System to Intermediate System(IS-IS).OSPF adalah suatu protocol routing yang handal dengan fasilitas least-cost routing, multipath routing dan load balancing. Penentuan jalur tercepat dan terbaik pada jaringan dihitung dengan metode algoritma Dijktra. Cisco menggunakan Implementasi OSPF sebagai fasilitas tambahan pada cisco router.

    Setiap router yang dikonfigurasi dengan OSPF, maka pertama router melakikan proses pengenalan informasi lingkungan secara terus – menerus sebagai inisialisasi. Pertama router menggunakan paket “hello” untuk mengindentifikasi informasi interface sekitarnya dan membangun adjacencies ( hubungan untuk pertukaran update routing) dengan yang lain. Selanjutnya route memulai dengan fase ExStart, dengan mempertukarkan database inisial. Selanjutnya fase pertukaran ini masuk dalam pengiriman informasi routing pada pembuatan jalur dan menerima acknowledgment (ack) yang diterima dari router baru. Selama fase loading, router baru mengkompilasi table routing. Setiap router yang telah selesai melakukan perhitungan, pada peningkatanya dalam full state dan dalam kaitannya yag menjadi bagian dari jaringan.

    Router 1 seharusnya dikonfigurasi sebagai berikut :

    Router>en

    Router#conf t

    Router(config)#hostname Router1

    Router1(config)#int e0

    Router1(config-if)#ip address 10.1.1.1 255.255.255.0

    Router1(config-if)#no shut

    Router1(config-if)#exit

    Router1(config)#int s0

    Router1(config-if)#ip address 172.16.10.1 255.255.255.0

    Router1(config-if)#no shut

    Router1(config-if)#exit

    Router1(config)#^z

    Router1#write mem

    Selanjutnya, perintah router ospf 100 harus dijalankan untuk mengaktivkan Protokol routing ospf. Nilai 100 merupakan sebuah parameter dari sebuah nomer identifikasi (bilangan integer dari 0 – 65535) yang digunakan sebagai inisialisasi dari router.

    Router(config)#router ospf 100

    Router(config-router)#

    OSPF telah berjalan pada router, statement jaringan harus digunakan untuk untuk memberitahukan router pada jaringan yang terkoneksi dan mengikutsertakan widlmask dan ospf area. Setiap interface router yang terhubung langsung untuk mengaktivkannya memerlukan nomor jaringan. Beberapa jaringan akan menggunakan skema alamat IP yang sama akan tetapi berbeda subnet, dan beberapa akan dikonfigurasi dengan skema pengalamatan IP berbeda secara keseluruhan. Diagram dibawah menunjukan dua skema pengalamatan IP yang berbeda.

    topologi

    Interface Ethernet 0 pada Router1 menpunyai alamat IP 10.1.1.1 dengan subnet /24 dan Interface Serial 0 mempunyai alamat IP 172.16.10.1 dengan subnet mask /16. Ketika pembuatan stemet jaringan, pembagian class dari pengalamatan, wildcardmask dan Id area ( bilangan interger dari 0 – 4.294.967.295) harus mendukung. Jadi pada Router 1, perintah network 10.0.0.0 0.0.0.255 area 0 pada interface Ethernet 0 dan perintah 172.16.0.0 0.0.0.255 area 0 akan dibuat interface serial 0. Wildcard digunakan untuk spesifikasi troubleshooting links untuk penambahan ataupyn pengurangan jaringan.

    Router1(config-router)#network 172.16.0.0 0.0.0.255 area 0

    Router1(config-router)#network 10.0.0.0 0.0.0.255 area 0

    Router1(config-router)#exit

    Router1(config)#exit

    Router1#

    Sekarang, perintah show running-config digunakan untuk konfirmasi Proses ID dari ospf yang telah ditentukan adalah 100 dan dua jaringan ditambahkan pada OSPF area 0

    Router1# show running-config

    Router 2 dikonfigurasi sebagai berikut :

    Router>en

    Router#conf t

    Router(config)#hostname Router2

    Router2(config)#int e0

    Router2(config-if)#ip address 10.1.1.2 255.255.255.0

    Router2(config-if)#no shut

    Router2(config-if)#exit

    Router2(config)#

    Dan pengaturan Informasi OSPF sebagai berikut :

    Router2(config-router)#router ospf 100

    Router2(config-router)#network 10.1.1.0 0.0.0.255 area 0

    Router2(config-router)#exit

    Router(2config)#^z

    Router2#write mem

    Pada pengaturan diatas seharusnya Protokol OSPF sudah berjalan diantara Router1 dan Router2

    Router 4 dikonfigurasi sebagai berikut :

    Router>en

    Router#conf t

    Router(config)#hostname Router4

    Router4(config)#int s0

    Router4(config-if)#ip address 172.16.10.2 255.255.255.0

    Router4(config-if)#no shut

    Router4(config-if)#exit

    Router4(config)#

    Dan pengaturan Informasi RIP sebagai berikut :

    Router4(config-router)#router ospf 100

    Router4(config-router)#network 172.16.0.0 0.0.0.255 area 0

    Router4(config-router)#exit

    Router4(config)#^z

    Router4#write mem

    Ospf seharusnya telah jalan pada tiga router tersebut. Perintah ping digunakan untuk mengetes konektivitas antar router. Dari Router1, Roter 4 interface serial 0 dan Router 2 pada interface Ethernet 0 juga di ping

    Router1#ping 172.16.10.1

    Router1#ping 10.1.1.2

    Selanjutnya,Router 1 seharusnya bias mem ping Router 2 dan Router 4

    Router2#ping 10.1.1.1

    Router4#ping 172.16.10.1

    Jika semua ping telah sukse dilakukan untuk menguju koneksi antar router

    Sekarang, perintah show ip ospf interface digunakan pada Router 1 untuk memverifikasi configurasi interface OSPF

    Router1#show ip ospf interface

    Perintah ini akan memberikan informasi tentang semua interface. Termasuk keluaran IP interface, cakupan area, Id process, Id router, cost, priority, tipe jaringan, waktu interval dan informasi hubungan dengan interface sekitar.


    Virtual Local Area Networks (VLAN)

    VLAN merupakan suatu model jaringan yang tidak terbatas pada lokasi fisik seperti LAN , hal ini mengakibatkan suatu network dapat dikonfigurasi secara virtual tanpa harus menuruti lokasi fisik peralatan. Penggunaan VLAN akan membuat pengaturan jaringan menjadi sangat fleksibel dimana dapat dibuat segmen yang bergantung pada organisasi atau departemen, tanpa bergantung pada lokasi workstation seperti pada gambar dibawah ini

    VLAN diklasifikasikan berdasarkan metode (tipe) yang digunakan untuk
    mengklasifikasikannya, baik menggunakan port, MAC addresses dsb.
    Semua informasi yang mengandung penandaan/pengalamatan suatu vlan
    (tagging)di simpan dalam suatu database (tabel), jika penandaannya berdasarkan
     port yang digunakan maka database harus mengindikasikan port-port yang 
    digunakan oleh VLAN. Untuk mengaturnya maka biasanya digunakan 
    switch/bridge yang manageable atau yang bisa di atur. Switch/bridge  inilah yang
     bertanggung jawab menyimpan semua informasi dan konfigurasi  suatu VLAN
    dan dipastikan semua switch/bridge memiliki informasi yang sama. 
    Switch akan menentukan kemana data-data akan diteruskan dan sebagainya.
    atau dapat pula digunakan suatu software pengalamatan (bridging software) 
    yang berfungsi mencatat/menandai suatu VLAN beserta workstation yang 
    didalamnya.untuk menghubungkan antar VLAN dibutuhkan router.
     
    Contoh perintah dalam cisco router:
    
    
    tabel

    tabel

    Untuk lebih memahami lihat topologi dibawah :

    vlan_topologi

    vlan_topologi

    Switch>enable

    Switch#configure terminal

    Switch(config)#hostname 2960

    2960(config)#vlan 10

    2960(config-vlan)#name Admin

    2960(config-vlan)#exit

    2960(config)#vlan 20

    2960(config-vlan)#name Accounting

    2960(config-vlan)#vlan 30

    2960(config-vlan)#name Engineering

    2960(config-vlan)#exit

    2960(config)#interface range fasthethernet 0/1 – 8

    2960(config-if-range)#switchport mode access

    2960(config-if-range)#switchport access vlan 10

    2960(config-if-range)#interface range fastethernet 0/9 – 15

    2960(config-if-range)#switchport mode access

    2960(config-if-range)#switchport access vlan 20

    2960(config-if-range)#interface range fastethernet 0/16 – 24

    2960(config-if-range)#switchport mode access

    2960(config-if-range)#switchport access vlan 30

    2960(config-if-range)#exit

    2960(config)#exit

    2960#write mem

    Pada pengaturan diatas membuat 4 vlan dengan IP berbeda dengan pengaturan seperti diatas

    klo misal keterangan diatas kurang silakan download versi lengkapnya disini

  • Bab VI Komunikasi, Jaringan dan Proteksi: Dunia Kabel dan Nirkabel

    Posted on June 23rd, 2009 ajie No comments

    Komunikasi, Jaringan dan Proteksi: Dunia Kabel dan Nirkabel

    Sekilas Bab Ini : Pada Bab ini membahas tentang pengertian Dunia Internet serta Pengembangan yang ada. Bab ini terdiri dari 6 subbab.

    Subbab dalam Bab ini diantaranya :

    6.1. Dari Zaman Analog Hingga Era Digital
    6.2. Jaringan
    6.3. Media Komunikasi Kabel
    6.4. Media Komunikasi Nirkabel
    6.5. Ancaman di Dunia Maya, Hcker dan Proteksi
    6.6. Komunikasi di Masa Depan

  • Bab X Analisis Sistem dan Pemograman: Pengembangan Perangkat Lunak, Pemograman dan Bahasa

    Posted on June 11th, 2009 ajie No comments

    Analisis Sistem dan Pemograman: Pengembangan Perangkat Lunak, Pemograman dan Bahasa

    Sekilas Bab Ini : Pada Bab ini membahas tentang Analisis Sistem Pemograman yang berhubungan dengan Perangkat Lunak, Pemograman dan Bahasa. Bab ini terdiri dari 6 subbab.

    Subbab dalam Bab ini diantaranya :

    10.1. Pengembangan Sistem: Enam Fase Analisis dan Design Sistem.
    10.2. Pemograman: Prosedur Lima Langkah.
    10.3. Lima Generasi Bahasa Pemograman.
    10.4. Bahasa Pemograman yang digunakan Saat ini.
    10.5. Pemograman Berorientasi Objek dan Pemograman Visual.
    10.6. Bahasa Markup dan Scripting.

  • Bab IX Tantangan Era Digital: Masyarakat & Teknologi Informasi Saat ini

    Posted on June 10th, 2009 ajie No comments

    Tantangan Era Digital: Masyarakat & Teknologi Informasi Saat ini

    Sekilas Bab Ini : Pada Bab ini membahas tentang Tantangan yang ada pada Era Digital yang bersifat Informatif bagi Masyarakat. Bab ini terdiri dari 5 subbab.

    Subbab dalam Bab ini diantaranya :

    9.1. Masalah Kebenaran: Manipulasi Data Digital
    9.2. Masalah Keamanan pada Sistem Komputer dan Komunikasi
    9.3. Mengamankan Komputer dan Komunikasi
    9.4. Masalah Kualitas Hidup: Lingkungan, Kesehatan Mental, Perlindungan Anak, dan Tempat Kerja
    9.5. Masalah Ekonomi dan Politik: Lapangan Pekerjaan dan Orang Kaya/Miskin

  • Bab VIII Database dan Sistem Informasi: Mesin Digital untuk Ekonomi saat ini

    Posted on June 10th, 2009 ajie No comments

    Database dan Sistem Informasi: Mesin Digital untuk Ekonomi saat ini

    Sekilas Bab Ini : Pada Bab ini membahas tentang Database dan Sistem Informasi. Bab ini terdiri dari 8 subbab.

    Subbab dalam Bab ini diantaranya :

    8.1. Konsep Dasar Pengaturan File.
    8.2. Sistem Manajemen Database.
    8.3. Model – Model Database.
    8.4. Data Mining.
    8.5. Database dan Ekonomi Digital: E-Business & E-Commerce.
    8.6. Sistem Informasi dalam Organisasi: Menggunakan Database untuk Membuat Keputusan.
    8.7. Kecerdasan Tiruan.
    8.8. Etika Menggunakan Database: Privasi & Pencurian Identitas.

  • Bab VII Teknologi Pribadi: Teknologi Masa Depan untuk Anda

    Posted on June 10th, 2009 ajie No comments

    Teknologi Pribadi: Teknologi Masa Depan untuk Anda

    Sekilas Bab Ini : Pada Bab ini membahas tentang pekembangan Teknologi masa Depan. Bab ini terdiri dari 8 subbab.

    Subbab dalam Bab ini diantaranya :

    7.1. Konvergensi, Portabilitas, dan Personalisasi
    7.2. Pemutar Mp3
    7.3. Radio Hi-Tech: Satelit, High Definition, dan Internet
    7.4. Kamera Digital: Mengubah Dunia Fotografi
    7.5. Personal Digital Assistant dan PC Tablet
    7.6. Televisi Baru
    7.7. Ponsel Cerdas: Lebih dari Sekedar Bicara
    7.8. Sistem Videogame: Mesn Super Nyaman?